Dana Pensiun BRI suatu benchmark Bagi Dana Pensiun Lain

Dilansir dari Majalah Info – Edisi Spesial HUT 50thn DAPENBRI 2019. Sebagai Ketua Asosiasi Dana Pensiun Indonesia, Bapak Suheri memandang Dana Pensiun BRI sebagai Dana Pensiun BRI yang sepak terjangnya akan dilihat oleh Dana Pensiun lain. Mengingat di usianya yang memasuki usia emas, banyak pengalaman yang telah dilalui sehingga menjadi Dana Pensiun ke 2 terbesar di Indonesia. Apa yang menjadi harapan dan tantangan apa bagi Dana Pensiun BRI di masa yang akan datang, berikut ini petikan wawancara INFO Dana Pensiun BRI dengan Ketua ADPI ini. Pada moment hari lahirnya Dana Pensiun BRI 25 Juli apa yang ingin Bapak sampaikan?

“Saya kira ulang tahun itu ada dua sisi, yang pertama kita mensyukuri apa yang sudah kita lakukan dan pencapaian saat ini. Kemudian yang kedua kita harus menjadikan momen ulang tahun sebagai refleksi diri atas apa yang sudah terjadi, berada di posisi apa kita pada saat ini? apa yang harus diperbaiki? dan apa kira-kira kelebihan kita yang bisa kita tingkatkan serta potensi yang kedepan bisa kita capitalize menjadi satu kekuatan yang bisa mendorong kita menjadi lebih baik.”

Perlu diingat hari yang telah lalu sudah tidak bisa kita ulang kembali sehingga yang terpenting adalah kedepannya. Apa yang bisa kita lakukan kedepannya agar kita bisa melakukannya dengan lebih baik. Karena situasi terus berkembang, kondisi terus berubah
dengan cepat. Bagaimana kita bisa mempersiapkan diri sehinga sukses kita pada saat ini bisa mendorong kesuksesan berikutnya di masa depan. Jangan berpuas diri dengan posisi kita hari ini karena kedepan tantangan dan rintangan yang harus kita hadapi semakin banyak sehingga perlu memperbaiki diri agar tantangan kedepan dapat kita lalui dengan baik. Itu saya kira.
Secara spesifik Pak harapan Bapak kepada Dana Pensiun BRI seperti apa?

“Dana Pensiun BRI kan sudah 50 tahun ya, sehingga memasuki usia emas. Emas itu harganya tinggi sekali sehingga menurut saya tidak mudah melalui waktu yang begitu lama tentunya banyak pengalaman yang diperoleh oleh Dana Pensiun BRI yang dapat menjadi suatu modal karena telah melalui berbagai hal. Harapannya adalah pertama dengan pengalaman ini Dana Pensiun BRI dapat menjadi lebih lincah dan sigap dalam menghadapi tantangan di depan. Yang kedua adalah sebagai Dana Pensiun BRI ke 2 terbesar di Indonesia, maka sepak terjang Dana Pensiun BRI ini akan dilihat oleh Dana Pensiun lain termasuk Pendiri lainnya. Dana Pensiun BRI akan dijadikan suatu pedoman atau suatu benchmark oleh Dana Pensiun lain. Oleh karena itu harapannya tunjukkanlah benchmark tersebut tidak hanya untuk diri sendiri melainkan juga dapat memberikan pengaruh kepada yang lain. Pendiri BRI juga dijadikan benchmark bagi pendiri lain oleh karena itu apapun yang dilakukan oleh Pendiri BRI akan menjadi contoh bagi Pendiri lainnya terutama dalam hal pentingnya peran Dana Pensiun. Berbagi pengalamannya, berbagi keahlian yang dimiliki agar Dana Pensiun lain bisa mencapai kemajuan dan kesuksesan yang sama seperti Dana Pensiun BRI. Sebagai Ketua ADPI, apa tantangankedepanbagiDana Pensiun menurut Bapak ? Kita harus pilah tantangan itu terlebih dahulu dari sisi internal. Kita melihat Dana Pensiun secara internal sangat dipengaruhi oleh yang pertama adalah Pendiri (Dewan Pengawas), Pengurus dan Industri terkait investasi. Dari segi Pendiri tantangannya adalah tumpang tindihnya Dana Pensiun; ada pesangon ada BPJS Ketenagakerjaan, adanya Dana Pensiun Sukarela. Ini tentunya menjadi suatu pemikiran bagi para Pendiri akan bagaimana Dana Pensiun ini mereka sikapi belum lagi ketatnya regulasi, semakin kesini semakin banyak yang diatur, terkait keterlibatan Pendiri karena jika Pendiri tidak menunjukkan supportnya sendiri kepada Dana Pensiun maka sulit bagi Dana Pensiun. Ini akan menjadi pekerjaan rumah bagi pengurus apabila Pendiri belum teredukasi dengan baik bahwa Dana Pensiun ini butuh sekali support dari mereka (Pendiri).

Yang kedua dari sisi Dewan Pengawas, kalau mereka tidak paham atas apa yang mereka awasi, tidak perduli atau malah bertindak seolah-olah lebih tahu maka ini juga menjadi problem. Dewan Pengawas harus kita kelola baik itu dari sisi knowledge nya maupun dari segi bagaimana Pengurus itu menghadapi Dewan Pengawas.

Yang ketiga adalah dari sisi Pengurus itu sendiri, kita dituntut untuk selalu meningkatkan potensi, integritas agar apa yang dipercayakan kepada kita ini dapat dikelola dengan baik. Orang-orang yang telah lama bekerja kemudian dia pensiun, maka dia pasti berharap hasilnya optimal ketika pensiun namun apabila pengurusnya tidak amanah, tidak kompeten dan tidak capable maka ini akan menjadi permasalahan tersendiri. Artinya tantangan buat Pengurus adalah mereka harus meningkatkan kompetensinya dan menjaga tata kelola dengan baik.

Yang keempat adalah investment di industrinya itu sendiri, investment ini juga telah banyak berubah. Dahulu mungkin dengan mudah kita prediksi apabila tingkat suku bunga turun orang dapat mudah masuk ke instrumen pasar modal dan saat suku bunga naik investor beralih ke instrument Fixed Income. Tapi sekarang tidak bisa seperti itu, situasi global berubah bahkan dengan tweet nya Trump maka seketika itu juga keadaannya berubah. Jadi kita harus betul-betul mempelajari situasi agar hasil investasi menjadi optimum.

Tantangan berikutnya secara eksternal adalah perubahan teknologi. Kenapa kita selalu berbicara millennial? Sebenarnya Industri 4.0 merupakan part of millennial. Kita yang berada diindustri ini apakah mampu mengikuti perubahan ini, bukan hanya industri 4.0 melainkan tingkah laku dari orang- orang saat ini seperti itu, bagaimana menyadarkan anak-anak muda ini sadar akan Dana Pensiun. Mungkin mereka lebih suka mengkonsumsi merek-merek ternama dibandingkan harus menyisihkan untuk persiapan pensiun. Bagaimana Dana Pensiun menyikapi ini. Berarti harus bekerja sama dengan Pendiri, Dana Pensiun juga harus menyadarkan pesertanya bukan tentang apa yang dikelola saja tetapi juga tentang peningkatan financial education untuk peserta. Inilah kira-kira tantangan dari Dana Pensiun.

Tumpang tindihnya peraturan (regulasi Dana Pensiun) juga merupakan suatu concern bagi industri Dana Pensiun namun mungkin tantangannya lebih ke regulator. Dalam beberapa kesempatan bertemu pihak Regulator, saya selalu menyarankan yang diwajibkan itu untuk ikut Dana Pensiun sebetulnya bukan perusahaannya melainkan pesertanya (ibarat karyawan begitu terima gaji langsungpotongpajaksetorkenegara) sama halnya pekerja dipotong gajinya disetor ke Dana Pensiun. Masalah apakah perusahaannya sanggup untuk membayar iuran atau tidak itu lain hal. Mungkin buat perusahaan kecil tidak perlu iuran namun karyawannya wajib ikut program Dana Pensiun, untuk kebaikan masa depan harus dengan paksaan. Karena kesejahteraan di hari tua setelah pensiun masih jarang disadari oleh tiap pekerja.

Bagi perusahaan besar pada level tertentu perusahaan harus kontribusi pada level yang ditentukan sehingga Dana Pensiun bisa semakin besar. Karena apabila iuran pekerja kecil maka setelah pensiun hasilnya relatif kecil atau untuk sebagian pekerja tidak memiliki uangpensiunmisalnya,tentuiniakan menjadi beban juga bagi negara.

Ada beberapa program PPMP yang beralih ke PPIP, menurut Bapak bagaimana prospek program PPMP kedepannya?
Dimana-mana perubahan itu selalu terjadi, pada PPMP ada suatu beban yang menakutkan bagi Pemberi kerja yaitu kenaikan gaji akan meningkatkan juga PSL artinya begitu terjadi beban maka manajemen berpikir dan ada beberapa upaya dari perusahaan itu untuk mengalihkan dari MP menjadi IP seperti halnya di BRI juga memiliki DPPK-PPIP. Semua memiliki kebijakan masing-masing namun secara otomatis dengan adanya trend perubahan seperti itu pasti menjadi acuan bagi perusahan untuk mencari jalan keluar atas permasalahan ini. Jadi Perusahaan itu menutup IP, bebannya berhenti di titik ini setelah itu dia tidak punya beban lagi walaupun sebetulnya mereka tetap memeiliki kewajiban pemenuhan UU Ketenagakerjaan (UU no. 13) tetapi secara jumlah itu maksimum 32.2 tetapi kalau program Manfaat MP bebannya bisa lebih besar. Makin lama rumusannya semakin besar 60x sd. 70x ditarik kebelakang bagi beban dan itu harus dibayarkan oleh perusahaan (dampak bagi Pendiri). Dampak ini harus diantisipasi oleh Pendiri jika ingin mengkonversi ke Program PPIP.

Penyetaraannya biasa dilakukan dengan kompensasi lainnya sesuai kemampuan Pendiri atas janji yang pernah dilontarkan. Sebetulnya Dana Pensiun sifatnya sukarela namun yang terjadi kenyatannya ketika benefit- benefit tertentu dihilangkan karena karyawan sudah menikmati sebelumnya maka ini menjadi problem. Dengan berkembangnya multimedia orang bebas bicara sehingga Pendiri menjadi lebih berhati-hati dan Pendiri harus bisa melakukan trade off kepada pemegang saham dan para karyawan.