Pensiunan seringkali menjadi sasaran empuk bagi penipuan berkedok investasi. Salah satu kasus penipuan investasi bodong yang pernah mencuat di media massa adalah kasus investasi ilegal Pandawa Group. Terjadi pada tahun 2017, kasus ini melibatkan lebih dari 2.900 nasabah yang menjadi korban dengan nilai total kerugian lebih dari Rp400miliar.
Pada waktu itu, perusahaan tersebut menawarkan bunga 10% setiap bulan kepada setiap investor yang menanamkan uangnya, jauh lebih tinggi dari bunga deposito yang ditawarkan bank. Bunga 10% yang dijanjikan tersebut dipenuhi pada awal kontrak, tetapi hingga waktu tertentu, pembayaran bunga terhenti, dan bahkan pemilik perusahaan menghilang, sehingga nasabah harus menempuh jalur hukum. Begitulah salah satu contoh skema investasi bodong yang sering terjadi.
Masa pensiun seharusnya menjadi masa yang tenang dan nyaman, ketika seseorang bisa menikmati hasil jerih payah selama puluhan tahun bekerja. Jangan sampai tabungan yang telah terkumpul selama puluhan tahun lenyap begitu saja karena pensiunan tergiur tawaran investasi yang ternyata merupakan investasi bodong. Dengan janji keuntungan tinggi dan minim risiko, skema semacam ini bisa menghabiskan seluruh tabungan hari tua dalam sekejap.
7 Tips Menghindari Investasi Bodong untuk Pensiunan
- Waspadai Janji Keuntungan Tinggi Tanpa Risiko
Jika ada investasi yang menjanjikan imbal hasil yang sangat menggiurkan seperti contoh bunga 10% per bulan tanpa risiko, sebaiknya langsung curiga. Dalam investasi yang sehat, keuntungan tinggi pasti disertai dengan risiko tinggi pula.
- Periksa Legalitas di Situs Resmi OJK
Pastikan perusahaan atau produk investasi sudah memiliki izin resmi dari OJK. Anda bisa memeriksa daftar entitas legal melalui laman Sikapiuangmu.ojk.go.id atau menghubungi kontak OJK 157. Jika tidak terdaftar, jangan ragu untuk menghindarinya.
- Hati-Hati dengan Tekanan untuk Segera Bergabung
Pelaku investasi bodong sering menekan calon korban dengan alasan seperti “promo terbatas” atau “harus cepat ambil posisi”. Taktik ini digunakan untuk membuat Anda bertindak tanpa berpikir panjang atau berdiskusi dengan keluarga. Hindari mengambil keputusan dengan terburu-buru.
- Jangan Percaya Testimoni Palsu
Banyak penipuan menggunakan testimoni palsu yang tampaknya meyakinkan, bahkan mencatut nama tokoh publik atau selebritas. Dalam kasus MeMiles, pelaku menampilkan foto sejumlah artis untuk meyakinkan calon korban, padahal mereka tidak terlibat. Tetap lakukan verifikasi mandiri.
- Pahami Skema Ponzi dan Gali Lubang Tutup Lubang
Skema Ponzi membayar keuntungan peserta lama dengan uang peserta baru. Saat tidak ada lagi peserta baru, skema runtuh dan semua peserta kehilangan uangnya. Kasus First Travel adalah contoh nyata, di mana ribuan calon jemaah umrah tidak jadi berangkat karena dananya diputar dalam skema semacam ini.
- Konsultasikan dengan Keluarga atau Ahli Keuangan
Sebelum menanamkan uang dalam jumlah besar, bicarakan terlebih dahulu dengan anak, saudara, atau penasihat keuangan. Pandangan orang lain sering kali bisa membantu melihat risiko yang mungkin tidak Anda sadari.
- Jangan Tergoda Karena “Sudah Ada yang Untung”
Banyak korban investasi bodong yang tertarik karena melihat tetangga atau kerabatnya “sudah dapat untung”. Namun, ini bisa jadi bagian dari strategi pelaku untuk memancing lebih banyak korban. Keuntungan awal biasanya hanya pancingan sebelum akhirnya uang besar hilang.
Pensiunan seringkali menjadi sasaran empuk karena mereka dianggap memiliki dana mengendap, waktu luang, dan keinginan untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Namun jangan sampai keinginan itu justru membuat Anda lengah. Waspadai semua tawaran yang terdengar terlalu bagus untuk jadi kenyataan.
Ingat, investasi yang sehat selalu disertai transparansi, izin resmi, dan pemahaman risiko yang jelas. Lebih baik melewatkan peluang yang meragukan daripada kehilangan tabungan yang telah dikumpulkan seumur hidup.